KEADAAN KUALITAS AIR BERSIH DI PERKOTAAN

Sumber :
| Direktorat Pengembangan Air Minum (Departemen Pekerjaan Umum Republik Indonesia) | digilib-ampl.net | DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2009. Oleh Noor Hujjatusnaini | Heri Apriyanto-Pusat Pengkajian Teknologi Pengembangan Wilayah Deputi Bidang PKT – BPPT (www.disdikgunungkidul.org) |


Banyak penelitian yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan, Pihak Universitas maupun Swasta terhadap kualitas air bersih dan air minum di berbagai kota di Indonesia. Khusus di Jakarta dan Surabaya adalah 2 kota dengan kualitas air minum dan air bersih terendah dibanding kota kota lain di Indonesia.

Hal ini adalah akibat dari rendahnya kualitas air baku dan tingkat pencemaran yang sedemikian parah di aliran sungai maupun air bawah tanah akibat kepadatan penduduk dan dekatnya jarak sumur bor dan Septic Tank yang kurang dari 10 Meter.

Ironisnya, air dengan tingkat pencemaran yang demikian tinggi bahkan sudah biasa digunakan oleh masyarakat untuk  kebutuhan MCK dan juga air minum. Bagi yang mampu,tentu akan memilih air minum isi ulang ataupun air minum dalam kemasan. Hal yang paling dikhawatirkan adalah jika air bersih atau air minum tersebut berdampak buruk bagi kesehatan karena secara biologis, fisik dan kimiawi terindikasi mengandung bahan pencemar.

Kehadiran bakteri Coliform merupakan indikator biologi adanya kontaminasi sampah atau feses terhadap sumber air. Kontaminasi Coliform dapat menyebabkan penyakit infeksi saluran pencernaan seperti diare dan gangguang pencernaan lain. Indikator kualitas fisik (kekeruhan, warna, rasa dan aroma/bau air) dan indikator kualitas kimia (pH, kesadahan, nilai BOD dan COD) air merupakan indikator kualitas air yang tidak secara langsung berhubungan dengan kesehatan. Kendati demikian, kualitas fisik dan kimia berhubungan dengan penentuan kelayakan air untuk dikonsumsi,

Perlu adanya tindakan nyata dan serius untuk mengatasi permasalahan ini. Masyarakat sebagai komponen yang berperan penting, perlu digugah kesadarannya tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dan larangan membuang sampah ataupun limbah industri ke dalam sungai. Khusus pabrik-pabrik besar,sebelum membuang limbah cair ke sungai diwajibkan membuat instalasi Waste Water Treatment Plant (WWTP) untuk menetralkan limbah beracun tersebut.


Melihat besarnya peran dan fungsi air bersih serta untuk mengantisipasi semakin tingginya kebutuhan air khususnya air bersih di Kawasan Perkotaan, maka perencanaan sistem air bersih harus mandapat perhatian yang serius. Karena perencanaan sistem air bersih merupakan salah satu faktor utama dalam pemenuhan kebutuhan air bersih di Kawasan Perkotaan. Pada saat ini dipastikan kinerja pelayanan air bersih di Kawasan Perkotaan masih sangat kurang terutama di kota metropolitan, kota besar, kota sedang dan kota kecil. Sebagai contoh pelanggan air minum perkotaan di Indonesia baru mampu dilayani sebanyak 50% kebutuhan air bersih penduduk Indonesia (Dirjen Cipta Karya, DPU, 1998). Provinsi DKI Jakarta yang merupakan kota metropolitan, pada tahun 2002 jumlah penduduk yang terlayani air bersih baru sekitar 54% atau 5.132.425 jiwa (PDAM Jakarta).



Disamping Perlunya penanganan pengelolaan air besih untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari, yang tidak kalah penting adalah penyelamatan ekosistem sungai dari bahan pencemar berbahaya dan keberlangsungan hidup masyarakat daerah aliran sungai yang menggantungkan hidup dari sungai. Mata rantai pencemaran sungai ini, bila tidak ditangani dengan serius dampaknya sungguh luar biasa. Mulai matinya habitat sungai, terganggunya populasi beberapa jenis burung, matinya bibit ikan dalam kolam-kolam tambak yang berimbas pada menurunnya hasil panen karena gagal panen dan banyaknya warga pinggiran sungai yang terkena dampak dengan timbulnya berbagai penyakit kulit,dsb.

Readmore »»

Apa itu Protokol Kyoto ?

Protokol Kyoto adalah sebuah amandemen terhadap Konvensi Rangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC), sebuah persetujuan internasional mengenai pemanasan global. Negara-negara yang meratifikasi protokol ini berkomitmen untuk mengurangi emisi/pengeluaran karbon dioksida dan lima gas rumah kaca lainnya, atau bekerja sama dalam perdagangan emisi jika mereka menjaga jumlah atau menambah emisi gas-gas tersebut, yang telah dikaitkan dengan pemanasan global.
Jika sukses diberlakukan, Protokol Kyoto diprediksi akan mengurangi rata-rata cuaca global antara 0,02°C dan 0,28°C pada tahun 2050. (sumber: Nature, Oktober 2003)

Nama resmi persetujuan ini adalah Kyoto Protocol to the United Nations Framework Convention on Climate Change (Protokol Kyoto mengenai Konvensi Rangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim). Ia dinegosiasikan di Kyoto pada Desember 1997, dibuka untuk penanda tanganan pada 16 Maret 1998 dan ditutup pada 15 Maret 1999. Persetujuan ini mulai berlaku pada 16 Februari 2005 setelah ratifikasi resmi yang dilakukan Rusia pada 18 November 2004.

Detil Protokol

Menurut rilis pers dari Program Lingkungan PBB:

"Protokol Kyoto adalah sebuah persetujuan sah di mana negara-negara perindustrian akan mengurangi emisi gas rumah kaca mereka secara kolektif sebesar 5,2% dibandingkan dengan tahun 1990 (namun yang perlu diperhatikan adalah, jika dibandingkan dengan perkiraan jumlah emisi pada tahun 2010 tanpa Protokol, target ini berarti pengurangan sebesar 29%). Tujuannya adalah untuk mengurangi rata-rata emisi dari enam gas rumah kaca - karbon dioksida, metan, nitrous oxide, sulfur heksafluorida, HFC, dan PFC - yang dihitung sebagai rata-rata selama masa lima tahun antara 2008-12. Target nasional berkisar dari pengurangan 8% untuk Uni Eropa, 7% untuk AS, 6% untuk Jepang, 0% untuk Rusia, dan penambahan yang diizinkan sebesar 8% untuk Australia dan 10% untuk Islandia."

Protokol Kyoto adalah protokol kepada Konvensi Rangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC, yang diadopsi pada Pertemuan Bumi di Rio de Janeiro pada 1992). Semua pihak dalam UNFCCC dapat menanda tangani atau meratifikasi Protokol Kyoto, sementara pihak luar tidak diperbolehkan. Protokol Kyoto diadopsi pada sesi ketiga Konferensi Pihak Konvensi UNFCCC pada 1997 di Kyoto, Jepang.

Sebagian besar ketetapan Protokol Kyoto berlaku terhadap negara-negara maju yang disenaraikan dalam Annex I dalam UNFCCC.

Status persetujuan

Pada saat pemberlakuan persetujuan pada Februari 2005, ia telah diratifikasi oleh 141 negara, yang mewakili 61% dari seluruh emisi. Negara-negara tidak perlu menanda tangani persetujuan tersebut agar dapat meratifikasinya: penanda tanganan hanyalah aksi simbolis saja. Daftar terbaru para pihak yang telah meratifikasinya ada di sini.

Menurut syarat-syarat persetujuan protokol, ia mulai berlaku "pada hari ke-90 setelah tanggal saat di mana tidak kurang dari 55 Pihak Konvensi, termasuk Pihak-pihak dalam Annex I yang bertanggung jawab kepada setidaknya 55 persen dari seluruh emisi karbon dioksida pada 1990 dari Pihak-pihak dalam Annex I, telah memberikan alat ratifikasi mereka, penerimaan, persetujuan atau pemasukan." Dari kedua syarat tersebut, bagian "55 pihak" dicapai pada 23 Mei 2002 ketika Islandia meratifikasi. Ratifikasi oleh Rusia pada 18 November 2004 memenuhi syarat "55 persen" dan menyebabkan pesetujuan itu mulai berlaku pada 16 Februari 2005.

Status terkini para pemerintah
Hingga 3 Desember 2007, 174 negara telah meratifikasi protokol tersebut, termasuk Kanada, Tiongkok, India, Jepang, Selandia Baru, Rusia dan 25 negara anggota Uni Eropa, serta Rumania dan Bulgaria.

Ada dua negara yang telah menanda tangani namun belum meratifikasi protokol tersebut:
Amerika Serikat (tidak berminat untuk meratifikasi)
Kazakstan

Pada awalnya AS, Australia, Italia, Tiongkok, India dan negara-negara berkembang telah bersatu untuk melawan strategi terhadap adanya kemungkinan Protokol Kyoto II atau persetujuan lainnya yang bersifat mengekang. Namun pada awal Desember 2007 Australia akhirnya ikut seta meratifikasi protokol tersebut setelah terjadi pergantian pimpinan di negera tersebut.

Readmore »»

Dari Yakushima, Toyota RiN menciptakan Harmoni antara Manusia dan Alam

Sumber : http://www.astraworld.com/; http://www.arthazone.com/; http://www.autoblackthrough.com/

Berangkat dari nilai-nilai filosofi, spiritual, dan keselarasan yang telah tercipta di situs alam Yakushima yang telah di bahas dalam posting sebelumnya. Toyota memperkenalkan untuk kali pertama ke publik dalam ajang "Tokyo Motor Show 2007". Sebuah kendaraan masa depan yang menggabungkan konsep kenyamanan dan keamanan serta bertujuan dalam upaya menciptakan harmoni antara manusia dan alam.
Dari bentuknya yang unik, Toyota RiN memang difokuskan pada peningkatan kenyamanan dan konsep hidup sehat. Aspek kenyamanan diwujudkan dengan interior yang lega, di mana kursi dibuat senyaman mungkin dengan model terpisah antara satu kursi dan kursi lain. Model sandaran kursi dirancang dalam tiga bagian yakni bagian kepala, badan dan bagian bokong. Dengan model ini, pengemudi ataupun penumpang menjadi lebih nyaman, apalagi posisi kursi bisa ditekuk hingga beberapa derajat untuk menyesuaikan kenyamanan penumpang.

Mobil konsep yang dirancang secara serius oleh tim desain Toyota Motor Corporation (TMC) ini lebih jauh ingin menanamkan dalam benak masyarakat yang mulai makin sadar dalam mengelola kehidupannya untuk lebih sehat. "Furthermore, to turn their attention to society and nature, producing a healthy rhythm for both mind and body, " begitu tulis TMC seperti dilansir carbodydesign.com, Senin (05/11).

Melihat model eksteriornya memang terkesan aneh dan tidak lazim. Model box-shape pada body kemudian model sliding door pada pintu, serta eksterior yang memendarkan warna hijau dan putih, Rin, yang berarti ”tulus” dan ”anggun” ini memiliki lantai bahkan sebagian besar cover body transparan. Jika Anda mengendarai mobil ini, sangat mudah sekali dikenali karena wajah Anda beserta isi kabin mobil kelihatan dari luar. Untuk penerangan jalan, RIN mengaplikasikan lampu depan yang dilengkapi fitur light distribution control yang mengatur intensitas cahaya lampu depan agar tidak menyilaukan para pejalan kaki dan pengemudi mobil lainnya yang datang dari arah yang berlawanan.

Dan memang seperti inilah Toyota RiN dibuat. Keseluruhan aspek dari konsep mobil yang bertujuan untuk menyatukan harmoni antara kehidupan manusia dan alam ini sangat pas. Brand image yang ditawarkan TMC kepada konsumen di mana kolaborasi antara “harmony with nature” dan “healthy mind and body” diyakini bisa menjadi entry poin masyarakat untuk menggemari model mobil seperti ini.

Selain tampak luar yang mencerminkan sebagai "green car", interior Toyota RiN juga dirancang khusus dan bernuansa alam pula. Misalkan di bagian kursi di mana terdapat motif akar-akaran dan pohon Yakusugi (icon tumbuhan Jepang). Dominasi warna hijau sebagai warna alam juga sampai pada bagian konsol panel di dashboard depan hingga karpet.
Yang lebih utama dari ini semua adalah lapisan body Toyota RiN ini yang terbuat dari bahan khusus, sejenis kaca yang mampu mereduksi pancaran sinar ultraviolet dan infrared yang bersumber dari matahari. Soal bahan bakar, Rin menggunakan hybrid antara bensin dan listrik. Dengan demikian, semakin jelaslah Toyota RiN sebagai mobil sehat bernuansa alami dengan tingkat kenyamanan maksimal.

Readmore »»

Yakushima, Situs Alam Warisan Dunia

Pulau Yakushima, terletak di bagian paling utara Jepang, 40 menit dengan pesawat dari Bandar Udara Kagoshima, merupakan tempat di mana terdapat hutan purba pohon-pohon cemara tua. Tempat ini adalah rumah bagi jomon sugi, pohon cemara tertua di Jepang, diperkirakan usianya antara 2000 - 7000 tahun.
Yakushima adalah salah satu tempat paling basah di Jepang, "di Yakushima hujan terjadi 35 kali dalam satu bulan" kata salah satu penduduk setempat. Hampir 4000 mm hujan per tahun turun di tepi pantai, sementara di daerah pegunungan, bisa mencapai kisaran 8000-10000 mm. Ini berasal dari kontribusi air yang berasal dari sungai-sungai dan air terjun. Sehingga jenis tumbuhan yang hidup di Yakushima pun beraneka ragam. Mulai dari tanaman subarktik yang banyak didapat di daerah pegunungan Okudake hingga tumbuhan subtropis yang hidup di daerah pesisir. Karena alasan inilah, Yakushima ditetapkan UNESCO sebagai situs warisan dunia yang pertama di Jepang pada tahun 1993. Mengambil tanaman hidup di Yakushima sangatlah dilarang.
Tak hanya itu. Berkat air yang berlimpah, semua sistem kelistrikan pulau ini dibangkitkan dengan tenaga air atau hidroelektrik. Kini, bahan bakar minyak untuk membangkitkan listrik sudah tak diperlukan. Baru-baru ini, proyek kerja sama universitas dan perusahaan swasta pun tengah dibangun. Mereka memanfaatkan kemurnian air dan pembangkit listrik untuk menghasilkan bahan bakar hidrogen dengan metode elektrolisis.
Kini, Pulau Yakushima menjadi ajang uji coba bagi mobil listrik yang dihasilkan melalui reaksi kimia antara bahan bakar hidrogen dan oksigen dari udara. Tujuan proyek ini adalah menciptakan lingkungan yang bebas gas buang kendaraan. Mobil bertenaga listrik dari sumber alam hidroelektrik pun mulai lalu lalang di ruas jalan di Yakushima.
Sedangkan untuk mencegah polusi air, bekas minyak makan sisa konsumsi penduduk didaur ulang untuk dibuat bahan bakar diesel. Bahkan, styrofoam juga didaur ulang dibuat bahan bakar. Hiroshi Ishii, wakil dari perusahaan Yakushima Denko mengharapkan ada teknologi yang dapat memanfaatkan energi alam untuk memenuhi semua kebutuhan. Sekaligus menghilangkan semua emisi karbondioksida di Yakushima.

Readmore »»

Solusi Polusi Udara Kota

Sumber : www.kompas.com - Sabtu, 31 Juli 2004

POLUSI udara kota di beberapa kota besar di Indonesia, khususnya di Jakarta, telah sangat memprihatinkan. Beberapa hasil penelitian tentang polusi udara dengan segala risikonya telah dipublikasikan, termasuk risiko kanker darah. Namun, jarang disadari, entah berapa ribu warga kota yang meninggal setiap tahunnya karena infeksi saluran pernapasan, asma, maupun kanker paru akibat polusi udara kota.
Meskipun sesekali telah mulai turun hujan, tetapi coba sempatkan menengok ke langit saat udara cerah sejak pagi sampai sore hari. Langit di Jakarta dan kota-kota besar di Indonesia sudah tidak biru lagi. Udara kota telah dipenuhi oleh jelaga dan gas-gas yang berbahaya bagi kesehatan manusia.

Diperkirakan, dalam sepuluh tahun mendatang terjadi peningkatan jumlah penderita penyakit paru dan saluran pernapasan dengan sangat bermakna. Bukan hanya infeksi saluran pernapasan akut yang kini menempati urutan pertama dalam pola penyakit di berbagai wilayah di Indonesia, tetapi juga meningkatnya jumlah penderita penyakit asma dan kanker paru.

Di kota-kota besar, kontribusi gas buang kendaraan bermotor sebagai sumber polusi udara mencapai 60-70 persen. Sedangkan kontribusi gas buang dari cerobong asap industri hanya berkisar 10-15 persen, sisanya berasal dari sumber pembakaran lain, misalnya dari rumah tangga, pembakaran sampah, kebakaran hutan, dan lain-lain.

Sebenarnya banyak polutan udara yang perlu diwaspadai, tetapi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan beberapa jenis polutan yang dianggap serius. Polutan udara yang berbahaya bagi kesehatan manusia, hewan, serta mudah merusak harta benda adalah partikulat yang mengandung partikel (asap dan jelaga), hidrokarbon, sulfur dioksida, dan nitrogen oksida. Kesemuanya diemisikan oleh kendaraan bermotor.

WHO memperkirakan bahwa 70 persen penduduk kota di dunia pernah menghirup udara kotor akibat emisi kendaraan bermotor, sedangkan 10 persen sisanya menghirup udara yang bersifat "marjinal". Akibatnya fatal bagi bayi dan anak-anak. Orang dewasa yang berisiko tinggi, misalnya wanita hamil, usia lanjut, serta orang yang telah memiliki riwayat penyakit paru dan saluran pernapasan menahun. Celakanya, para penderita maupun keluarganya tidak menyadari bahwa berbagai akibat negatif tersebut berasal dari polusi udara akibat emisi kendaraan bermotor yang semakin memprihatinkan.

Kita perlu belajar melalui pengalaman dari negara lain dalam hal polusi udara kota ini. Pada tahun 1990-an dilaporkan bahwa di Cubatao, Brasil, terjadi tragedi lingkungan yang cukup fatal bagi bayi. Empat puluh dari setiap 1000 bayi yang lahir di kota itu meninggal saat dilahirkan, sedangkan 40 yang lain kebanyakan cacat atau meninggal pada minggu pertama hidupnya. Pada era tahun tersebut, dengan 80.000 penduduk, Cubatao mengalami sekitar 10.000 kasus kedaruratan medis, yang meliputi penyakit tuberkulosis (TBC), pneumonia, bronkitis, emfisema, asma bronchiale, serta beberapa penyakit pernapasan lain.

Solusi untuk mengatasi polusi udara kota terutama ditujukan pada pembenahan sektor transportasi, tanpa mengabaikan sektor-sektor lain. Hal ini kita perlu belajar dari kota-kota besar lain di dunia, yang telah berhasil menurunkan polusi udara kota dan angka kesakitan serta kematian yang diakibatkan karenanya.

- Pemberian izin bagi angkutan umum kecil hendaknya lebih dibatasi, sementara kendaraan angkutan massal, seperti bus dan kereta api, diperbanyak.

- Pembatasan usia kendaraan, terutama bagi angkutan umum, perlu dipertimbangkan sebagai salah satu solusi. Sebab, semakin tua kendaraan, terutama yang kurang terawat, semakin besar potensi untuk memberi kontribusi polutan udara.

- Potensi terbesar polusi oleh kendaraan bermotor adalah kemacetan lalu lintas dan tanjakan. Karena itu, pengaturan lalu lintas, rambu-rambu, dan tindakan tegas terhadap pelanggaran berkendaraan dapat membantu mengatasi kemacetan lalu lintas dan mengurangi polusi udara.

- Pemberian penghambat laju kendaraan di permukiman atau gang-gang yang sering diistilahkan dengan "polisi tidur" justru merupakan biang polusi. Kendaraan bermotor akan memperlambat laju.

- Uji emisi harus dilakukan secara berkala pada kendaraan umum maupun pribadi meskipun secara uji petik (spot check). Perlu dipikirkan dan dipertimbangkan adanya kewenangan tambahan bagi polisi lalu lintas untuk melakukan uji emisi di samping memeriksa surat-surat dan kelengkapan kendaraan yang lain.

- Penanaman pohon-pohon yang berdaun lebar di pinggir-pinggir jalan, terutama yang lalu lintasnya padat serta di sudut-sudut kota, juga mengurangi polusi udara.

Anies Dosen Ilmu Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran Pencegahan Fakultas Kedokteran| Universitas Diponegoro

Readmore »»

Mangrove Dijadikan Kayu Bakar

sumber : http://www.kompas.com/ - Sabtu, 29 September 2007

Pemerintah Pernah Menjanjikan Biaya Perawatan, Tak Pernah Terealisasi

KENDAL, KOMPAS - Mangrove di tambak-tambak di Desa Kartika Jaya, Kecamatan Patebon, Kabupaten Kendal, yang digunakan untuk menangkal abrasi, Jumat (28/9), terlihat tidak terawat dan sebagian sudah ditebang. Potongan kayu tersebut ternyata digunakan masyarakat untuk dijadikan kayu bakar.

Beberapa mangrove atau bakau yang berusia antara satu hingga dua tahun terlihat kering dan letaknya mulai tidak teratur. Untuk mangrove yang sudah besar dan berusia di atas empat tahun, ada yang sudah ditebangi sehingga hanya tersisa akarnya atau bahkan ada yang mati. Beberapa potong kayu hasil penebangan tersebut ada yang digeletakkan begitu saja di tepi tambak.

Seorang petambak, Fadholi (35), mengemukakan, mangrove yang sudah besar memang sering ditebang masyarakat sekitar guna dijadikan kayu bakar untuk memasak. Mereka biasanya memilih tanaman yang tidak lagi dirawat oleh pemilik tambak atau sudah mati.
Mangrove yang berada di tambaknya juga sebagian sudah mati. Fadholi mengaku tanaman tersebut memang tidak ia rawat. Satu tahun lalu dia mendapatkan mangrove sebanyak 1.000 bibit dan ditanam di tambak seluas tiga hektar yang sudah empat tahun ia sewa.

"Bagaimana mau merawat mangrove, saya saja hanya mengontrak tambak. Apalagi, dulu pemerintah menjanjikan ada penggantian biaya perawatan Rp 200 per bibit. Sampai sekarang tidak ada," ujarnya.

Tidak dilibatkan

Petambak lainnya, Hendradi (38), mengutarakan, pemotongan mangrove tersebut bukan dilakukan warga Kartika Jaya karena mereka mengetahui pentingnya tanaman tersebut untuk mencegah abrasi atau pengikisan tanah. Apalagi, saat pasang tinggi, air laut bisa menutupi tambak dan bisa memasuki permukiman warga yang letaknya sekitar dua kilometer dari bibir pantai. Air laut menggenangi pekarangan warga yang dekat dengan tambak.

"Kami tidak mungkin mengawasi terus-menerus tanaman itu. Terlebih kami juga tidak dilibatkan saat penanaman mangrove," ujarnya.

Di tempat terpisah, pemerhati mangrove dari Pusat Kajian Pesisir dan Laut Tropis Universitas Diponegoro, Rudhi Pribadi, menuturkan, penanaman mangrove seharusnya sudah melibatkan masyarakat sekitar agar mereka benar-benar mengerti manfaat mangrove tersebut sebagai penghalang abrasi.

Menurut dia, mangrove memang tidak dapat secara instan dalam satu atau dua tahun mengatasi persoalan abrasi, tetapi memerlukan waktu. Untuk itu, perlu ada upaya untuk merawat dan memantau perkembangannya. Hal tersebut hanya memungkinkan terjadi bila masyarakat sekitar berperan aktif. (GAL)

Readmore »»

Peduli Pemanasan Global, Masjid di Inggris Nyatakan "Bebas Karbon"

sumber : http://www.eramuslim.com/ - Jumat, 11 Jan 08 16:16 WIB

Sebuah masjid di South Woodford, sebelah timur laut kota London menyatakan diri sebagai tempat ibadah pertama yang bebas zat karbon. Masjid ini mengurangi pemakaian gas dan listrik dan menggantikannya dengan penanaman pohon-pohon.
Organisasi sosial Tolerance Internasional telah melakukan kalkulasi atas emisi karbon masjid tersebut, untuk membantu seberapa besar pengurangan energi yang harus dilakukan Masjid South Woodford.
Ketua masjid Dr. Muhammad Fahim mengatakan, ajaran Islam mewajibkan umatnya untuk menjaga kelestarian lingkungan tempat mereka hidup. "Kita tidak bisa hanya memanfaatkannya, tanpa menjaga dan melindungi alam, " ujarnya.
"Ketika pohon-pohon memberikan memberikan buah, buah itu bukan untuk pohon itu sendiri tapi juga untuk umat manusia yang mendapat keuntungan darinya. Saya ingin setiap Muslim seperti pohon itu, yang memberikan manfaat bukan buat dirinya sendiri, tapi juga untuk orang lain, " sambung Dr. Fahim berfilosofis.
Ia melanjutkan, "Masjid kami menjadi masjid pertama di Inggris yang bebas karbon dan kami berusaha menjadi pelopor untuk masjid-masjid lainnya. Kami ingin mempromosikan hal-hal yang ramah lingkungan. "
Sementara itu, Ketua Eksekutif Tolerance International, Hamid Bayazi mengatakan, inisiatif yang dilakukan Masjid South Woodford akan mempercepat upaya untuk mengatasi masalah pemanasan global.
"Kami merasa, terserah pada lembaga-lembaga keagamaan sendiri apakah akan ikut berpatisipasi dalam wacana perubahan iklim. Pada dasarnya, kalangan bisnis sekarang membicarakan masalah ini, begitu juga pemerintah. Tapi jarang ada institusi keagamaan yang melibatkan diri dalam masalah ini, " ujar Bayazi.
Para ilmuwan dunia memprediksikan, suhu dunia rata-rata akan rmeningkat antara 1, 8 sampai 3 derajat Celsius pada abad ini karena efek emisi gas rumah kaca, terutama dari hasil pembakaran bahan bakar minyak. Peningkatan suhu berdampak pada kekeringan, kelaparan, banjir yang bisa membahayakan kelangsungan hidup manusia.
Lembaga Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyebutkan, pada tahun 2080 kemungkinan ada 3, 2 milyar penduduk dunia-sepertiga penduduk bumi-yang akan kekurangan air, 600 juta orang akan mengalami kelaparan dan 7 juta orang akan mengalami kebanjiran karena permukaan air laut yang terus naik.
Organisasi pemerhati lingkungan hidup World Wildlife WWF menuding AS menjadi negara yang paling besar kontribusinya dalam pemanasan global dan telah mengesampingkan peringatan dari para ilmuwan agar ikut mengatasi masalah itu. (ln/iol)

Readmore »»